MEMBERI, SYARAT MENERIMA
Memberi adalah kunci untuk menerima. Memberi adalah salah satu bukti kita bebas dari ketamakan dan keserakahan. Memberi adalah tindakan untuk kita tidak jatuh menjadi diperbudak oleh uang. Sebagaimana ada satu ungkapan, “Uang adalah tuan yang buruk tapi pelayan yang baik.” Ya, orang tidak bertindak dikuasai uang inilah yang akan dapat menjadi penguasa atas uang. Inilah yang disebut orang yang mengalami kebebasan finansial.
Berbicara soal memberi, Oswald Smith pernah berkata, “Orang dewasa suka memberi, anak-anak suka menerima.” Salah satu bukti pribadi yang dewasa adalah jika kita memiliki kebiasaan untuk memberi. Sebaliknya, jika kita selalu menggenggam erat apa yang ada pada kita, itu adalah pertanda bahwa kita masih kekanak-kanakan. Oral Roberts berkata lebih keras, “Jangan doakan orang yang tidak pernah memberi, karena nol dikalikan berapapun tetap nol.” Jika kita melihat sepak terjang orang-orang kaya dan sukses di dunia pun, kita akan melihat bahwa mereka juga tahu pentingnya memberi. Lihat saja organisasi amal yang didirikan Bill Gates, Larry King, Oprah Winfrey, J.K. Rowling, Jeff Bezos, dll. Serta yang paling fenomenal adalah tindakan amal Warren Buffet yang menyumbangkan 85% kekayaannya beberapa waktu lalu.
Memberi itu Sehat
Namun, tidak bisa dimungkiri, manusia umumnya akan lebih mengutamakan dirinya sendiri ketimbang orang lain. Ini adalah hal alamiah, bahkan justru akan bahaya kalau ada orang yang membenci dirinya sendiri. Sayang, makin hari makin banyak orang yang tertlalu mengutamakan dirinya dan sama sekali tidak peduli pada orang lain. Tidak perlu berpikir tentang beramal lebih dulu. Sikap inipun sudah bisa tercermin pada bidang kesehatan.
Ya, untuk dirinya sendiri orang tentu akan memberi yang terbaik. Makanan harus yang enak-enakan, padahal makanan yang enak itu kebanyakan pasti makanan seperti gorengan, makanan manis, yang gurih, berlemak, berkolesterol tinggi, dst. Tubuh juga dimanjakan sedemikian rupa, hal-hal yang membuat capek atau kepayahan sedapat mungkin dihindari. Kalau dulu orang harus berjalan kaki untuk ke luar kota , kini hanya ke warung sejarak 100 meter pun harus naik motor.
Kita tahu kelanjutannya. Ternyata, manusia yang hanya mau meminta atau mendapat saja justru akan membunuh dirinya sendiri. Penyakit akibat obesitas alias kegemukan, penyumbatan pembuluh darah, sesak napas, atau tulang keropos akibat jarang gerak adalah ciri khas masyarakat zaman modern yang makin individualis. Fakta di atas membuktikan banyak orang bahkan egois pada dirinya sendiri.
Memberi itu Kebutuhan
Keuangan pun bisa dikatakan hampir seperti kesehatan. Jika ingin sehat, kita harus mengolah (mengelola) dengan cara yang tepat, memiliki pemahaman yang tepat, dan mengenali kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Jika kita berinvestasi atau menjalankan uang agar berkembang dan produktif, tubuh juga berolahraga agar otot berkembang. Dan yang terakhir, jika ingin sehat, kita juga harus bisa ‘membuang’ energi. Jika ingin keuangan kita sehat, kita harus bisa memberi ke luar.
Namun, kadang kala kita memakai banyak alasan untuk tidak memberi seperti berikut :
- Saya sendiri masih butuh ini dan itu. Ingatlah bahwa kebutuhan Anda tidak akan pernah ada habisnya.
- Saya belum kaya. Memberi bukan soal nominal, tapi soal hati. Mengapa untuk memberi harus menunggu kaya lebih dulu?
- Jangan-jangan nanti dia jadi pemalas. Benarkah kita peduli kalau mereka jadi malas, ataukah kita sebenarnya hanya terlalu berat untuk membuka dompet?
- Apa untungnya memberi? Memberi jelas bukan soal untung rugi. Memberi itu tentang ketulusan. Artinya, jika kita ingin mengkalkulasi berapa banyak hasil yang bisa kita dapat dari memberi, itu bukan memberi, tapi “memancing”.
Memberi adalah kebutuhan, jadi bahkan bukan sekadar kewajiban. Namun, tentu saja ada beberapa prasyarat yang perlu kita ingat dalam memberi. Yang pertama, memberi adalah bicara tentang ketulusan. Memberi tapi mensyaratkan imbalan sudah bukan lagi memberi tapi transaksi. Tidak ada juga orang yang suka menerima pemberian yang tidak tulus, kecuali terpaksa. Kedua, memberi juga bicara tentang si penerima, bukan si pemberi. Artinya, pemberian harus mengutamakan kebutuhan penerima. Memberikan seperangkat perlengkapan golf kepada korban bencana tanah longsor sama sekali tidak berguna, bahkan justru bisa dianggap menghina. Memberi juga harus dengan empati. Tidak semua orang butuh simpati (belas kasihan) tapi semua orang perlu empati atau sikap memahami dan berbagi.
Memberi itu Karakter
Memberi adalah karakter. Makin banyak manusia egois membuat orang yang punya karakter memberi menjadi langka. Sesuatu yang langka akan dihargai. Jangan heran, jika seorang suka memberi bisa sering mengalami ‘keajaiban’ yaitu pertolongan dari orang-orang yang pernah ditolongnya.

0 komentar:
Posting Komentar